10 Efek Negatif membandingkan Diri dengan Orang lain

Diposting pada

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain sangat nggak baik. Setelah saya rangkum ternyata ada sekitar 10 efek negatif yang saya alami. Sementara kegiatan membanding-bandingkan diri kita pada orang lain sangat mudah dilakukan. Salah satunya karena hadirnya media sosial seperti instagram, facebook, twitter serta berbagai platform digital lain seperti youtube atau website.

Di zaman digital seperti sekarang ini. Memang sangat kompetitif persaingan yang terjadi. Semuanya bisa dilihat melalui internet. Semua orang terhubung. Ini menyebabkan kita mudah sekali membanding-bandingkan kelemahan kita dengan kelebihan orang lain. Nggak fair, nggak semestinya dan patut dihindari.

Nah, biar kalian semua menghindari. Saya akan uraikan poin-poin kerugiannya.

1. Kehilangan rasa percara diri.

Bermula tadi malam saat saya melakukan blogwalking. Gara-gara mengetahui apa itu DA (Domain Authority) pada suatu blog. Lantas saya melihat bahwa DA blog saya terperosok jauh di level paling rendah. Menyadari realita seperti itu, saya langsung kehilangan rasa percaya diri. Saya lalu mengamati DA milik blog teman saya lainnya yang sudah mencapai angka 11, 18 bahkan 68-an.

Tiba-tiba, saya langsung jadi lemes. Bingung & nggak semangat. Saya rasa, ini perlu dihindari. Benar saya bilang! Setelah saya meninggalkan facebook selama 30 hari, banyak hal-hal positif yang saya sadari dan itu terjadi pada bulan berikutnya setelah 30 hari berlalu.

2. Jadi tidak semangat.

Terus menyambung pengamatan saya terhadap traffict blog lain milik teman saya, juga terlihat jelas. Bahwa traffic mereka sudah sangat tinggi sekali, sementara saya yang pemula begini masih bisa dihitung jari.

Makin membuat saya jadi nggak semangat. Untuk saya cepat menyadari dan saya coba untuk mengondisikan perlakuan comparing self with other ini agar jadi bahan evaluasi yang positif saja.

3. Hilang harapan.

Yang berikutnya juga jadi hilang harapan untuk melangkah kedepan mau gimana, strategi apa yang ingin dilakukan itu langsung hilang. Rasa pengen belajar, tiba-tiba padam. Gambaran masa depan yang dihasilkan dari buah proses yang dilalui, seolah lenyap. Ini kan diluar fitrah namanya.

Dimana-mana, yang namanya proses itu pasti ada. Karena proses membawa kita kepada suatu hasil. Meski ada faktor X yaitu semua hasil adalah milik Allah, kita hanya perlu berusaha dengan sebaik-baiknya. Tapi kalau sudah kehilangan harapan dulu, jadinya proses itu ter-cut. Alias terpotong.

Makanya yuk, jangan sampai ngebandingin diri kita dengan orang lain.

4. Mudah emosi.

Faktor tidak langsung adalah emosional, misalnya saat dirumah bersama anak-anak, atau istri jadinya tidak semangat. Hati mudah bete. Bawaannya nggak mood. Ditanya dikit, rasanya bikin naik pitam. Nah itu dampak yang ternyata cukup membahayakan ya.

5. Kebuntuan ide.

Seperti halnya harapan, kreatifitas ide juga akhirnya jadi mandeg alias tertutup gara-gara kita membandingkan kelemahan-kelemahan kita seketika dengan kelebihan milik orang lain yang mana itu adalah sudah dihasilkan dari suatu proses yang tidak instan.

Mereka bisa dapat hasil seperti yang kita lihat sekarang, kan itu melalui proses yang panjang. Kita saja yang nggak tahu. Karena lihat pas suksesnya aja, tapi bisa jadi mereka jatuh bangun, berdara-darah saat membangunnya loh. Bisa jadi-bisa jadi. Iya kan?

6. Malas mau ngapa-ngapain.

Ketika pagi hari sehabis bangun tidur, efek yang saya alami termasuk malas mau ngapa-ngapain. Mau bikin kopi aja sampe nggak semangat gara-gara mikirin prestasi milik orang lain. Apalagi mau nyapu halaman rumah depan yang kotor, menyapu lantai didalam rumah.

Males, nggak semangat jadinya. Perlakuan membandingkan diri dengan orang lain benar-benar punya efek negatif yang dahsyat! Nyesel saya. Tapi ini mungkin mash bisa aja akan dialami nanti kedepan kalo tanpa disadari kita melihat karya orang lain.

Mungkin kalian juga akan mengalami sendiri. Coba deh, ingat-ingat terus nanti kalo bisa hilangkan ya. Bebaskan! Independen-lah.

7. Kurang bersyukur.

Yaa, rasa bersyukur jadi terkubur. Seharusnya apa yang sudah kita miliki, meski berupa kelebihan kecil akan nikmat jika disyukuri. Namun gara-gara membandingkan hidup kita dengan orang lain, perasaan syukur di hati kita lenyap perlahan.

Kalo nggak syukur, namanya jadi kufur. Sementara orang yang kufur, itu dalam islam diancam siksa. Kita harus mengukur diri dengan diri kita yang lalu. Ini yang ideal, menurut saya dan jadikan prestasi orang lain sebagai pemantik semangat.

8. Wajah jadi kusut.

Nah, ini aslinya pengen bikin saya tertawa. Hanya gara-gara sebab kecil yang kurang penting, dampak negatif jadi kita yang alami. Ini kan konyol, wajah jadi kusut dengan sendirinya.

Orang lain nggak tau apa-apa, tiba-tiba kita wajahnya kusut. Rugi banget kan. Terbuang percuma waktu, energi, semangat, uang yang telah kita investasikan. Ah! Jadi gregetan !

9. Dilanda kebingungan.

Nah, sebaiknya persulit akses untuk selalu melihat karya orang lain jika kita masih sering membanding-bandingkan secara tidak sengaja. Sebab, kalo itu terus terjadi kita jadi bingung mau ngapa-ngapain. Menghambat aktivitas produktif yang menunjang kita tumbuh.

Mempersulit akses, akan mengurangi intensitas kita membanding-bandingkan kelebihan orang lain dengan kelemahan diri sendiri. Ini persis seperti sanggahan dari buku james clear Atomic Habit.

10. Rasa ingin apa-apa serba instan.

Kita berfikirnya jadi pendek, menginginkan apa-apa serba instan. Kita menghilangkan bagian terpenting yaitu proses. Bagian ini, adalah bagian yang membuat kita aslinya jadi belajar. Jadi paham. Jadi tangguh.

Kalo kita tidak mau mengikuti proses, kalo maunya serba instan. Hasil yang didapatkan nanti jadinya akan rapuh. Kerempeng. Nggak kuat. Ini pas banget seperti kata Mark Manson dalam sebuah buku berjudul sebuah seni untuk bersikap bodo amat.

Dimana dia, nyuruh kita untuk selalu menjalani proses jangan semuanya serba instan.

Nah, itulah daftar efek buruk alias negatif.

Kalo kita masih saja ngebandingin kelemahan diri kita dengan orang lain. Please, jangan konyol. Jangan buang-buang kesempatan untuk kita berproses.

Hanya karena kita sering dijamu oleh karya hebat kompetitor yang membuat kita patah semangat. Yuk, latih diri kita untuk selalu menghargai proses dan dalam mengerjakan apa yang dicita-citakannya itu percaya pada kemampuan diri.

Sekian, semangats yuk!

Last Updated on 10 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.