6 Rezeki Besar dari Allah selain Uang yang jauh Lebih Berharga nilainya

Diposting pada

Niat saya membuat daftar ini adalah supaya saya tidak memandang sempit yang namanya rezeki. Rizki Allah, amat banyak ragam jenisnya. Kata ustadz Nuzul Dzikri bahwa rezeki manusia ada di langit. Menurunkannya, harus melalui ihtiyar dan usaha seperti bekerja.

Menjadi kaya itu bukan paksaan. Menjadi miskin juga bukan kepasrahan. Kita coba ambil idealnya deh. Tetep berusaha untuk kaya dan berusaha tidak miskin. Tengah-tengahnya kan itu. Nah cuman, yang perlu dibetulkan adalah pemaknaan kaya dan miskin ini. Jangan sampai salah, nanti jadi pusing sendiri. Frustasi dan stress.

Untuk reminder juga buat saya sendiri saat nanti menjumpai kondisi tertentu mengenai rezeki, kekayaan dan kemiskinan. Saya ingin membuat sebuah daftar rezeki yang nilainya lebih besar daripada uang. Biar kekayaan itu nggak selalu dikait-kaitkan sama uang melulu. Hmm.. Ok. Apa aja kira-kira. Barangkali, ini juga berlaku buat temen-temen semua,.. silakan saja ?

Baiklah. Ini daftar 6 rezeki besar selain uang !

1. Kesehatan

Dengan fisik dan mental sehat saya bisa melakukan banyak hal. Nilai kesehatan nggak pernah bisa diukur. Apalagi pembandingnya uang. Itu sama sekali nggak nyambung. Uang ya mengenai nominal. Kesehatan mengenai value yang alat ukurnya adalah kondisi saat sakit.

Jadi kesehatan ini adalah rezeki yang amat besar nilainya. Coba inget kondisi ketika Anda sakit. Rasanya gimana, butuh biaya berapa banyak untuk berobat ? Berapa total biaya pemulihannya nah segitulah harga yang seharusnya kamu gunakan paling minimal untuk berayukur atas nikmat sehat. Sering-seringlah mensyukuri nikmat sehat karena itu gratis namun sering dilupakan.

2. Waktu

Ini hal yang hampir sama dengan kesehatan. Waktu lebih berharga ketimbang uang. Punya waktu luang, bagi saya sebuah rezeki yang sangat besar untuk melakukan syukur, atau berkegiatan. Jadi setiap kali hati saya merasa sedih karena gagal atau ketidakpuasan atas suatu hal. Saya harus ingat bahwa masih punya rezeki besar berupa waktu. Dengan waktu saya bisa membangun lagi. Memulai kembali dan merencanakan ulang.

Tapi ingat, jangan sampai salah menggunakan waktu. Jangan menyelewengkan wewenang karena mentang-mentang masih muda, misalnya terus kamu begadang. Bagaimanapun juga benruk mensyukuri waktu adalah dengan cara menggunakan sesuai peruntukkannya. Contoh, tidak tidur di waktu pagi dan sehabis ashar. Tidak membiasakan begadang malam. Idealnya sehabis isya segera tidur. Maksimal jam 22.00 wib lah sudah harus beristirahat dari pekerjaan duniawi.

3. Hafal Alquran

Entah kenapa saya ingin sekali menempatkan ini pasa poin nomor tiga. Sebab, bagi saya jika saya diizinkan bisa hafal Alquran masyaallah. Rezeki besar yang benar-benar nggak pernah bisa saya bayangkan nilainya. Amat besar, bahkan mungkin lebih besar daripada dunia serta isinya. Suatu hari saya pernah merasa takjub dengan apa yang alquran sampaikan karena realitasnya dijumpai di dunia nyata, sampai-sampa saat itu ingin rasanya saya melebur menjadi huruf-huruf dalam alquran.

4. Kedua orang tua

Bagi saya, mereka itu adalah rezeki yang sangat besar yang dikirim Allah buat seorang Anak. Kalian nyadar gak sih? Kebahagiaan mereka adalah ridho-nya Allah. Kalo ortu seneng sama kita, Allah juga seneng. Kalo orang tua marah sama kita, Allah ikut marah. Ridho Allah ke kita, tergantung gimana orang tua ke anaknya.

Jadi, kalian bisa merasakan hubungan dengan orangtua kalian seperti apa. Maka mirip-mirip seperti itulah hubungan kita sama Allah. Terus kenapa kok ini sebuah rizki yang besar. Lebih besar daripada uang. Sebab, syurga (Rezeki terbesar dari Allah) ada sama mereka. Terutama bagi laki-laki, harus seumur hidup bertanggung jawab atas orangtuanya.

Ini prinsip saya, yah. Jadi, kalo mau rezeki kita bagus. Kita emang harus bagus juga memperlakukan orangtua. Titik.

5. Istri dan anak-anak

Mereka tak ternilai keberadaannya. Terlebih istri, yang datang dari perjumpaan yang tidak ada ikatan darah. Tapi, sanggup menemani suami. Mengorbankan hidupnya untuk mengabdi sampai tua bersamanya. Istri adalah rezeki dari Allah yang tak bisa diukur nilainya. Ia membantu dari pagi sehabis bangun tidur, hingga sebelum ia tertidur.

Mengurusi semua kebutuhan suaminya, dan seringnya ia kelelahan namun tidak dirasakan. Ia tetap strong, menjalankan tugasnya sebagai permaisuri untuk suaminya. Masyaallah.

Begitu juga anak-anak. Ia hadir sebagai amanah dari Allah buat ayahnya. Ia juga kelak menjadi sebab pahala terus mengalir, tatkala tugas sang ayah didunia telah selesai. Anak, adalah aset yang tak bisa diingkari. Oleh sebab itu, apa yang kamu tanamkan ke anak. Akan kamu panen nanti. Jika tanaman itu berupa benih kebaikan, ia akan tumbuh dan membuahkan banyak kebajikan dan kemuliaan.

Sebaliknya jika yang ditanam berupa bibit keburukan, maka ia akan tumbuh sebagai sesuatu yang akan membuat orangtuanya dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat.

6. Bisa sedekah, mau sedekah.

Adalah sebuah rezeki yang tak bisa dijelaskan nilainya. Logika-nya bersedekah itu kan mengeluarkan uang atau apapun yang masih kita butuhkan dari kita. Kita rela membagi. Hati kita tidak terikat oleh benda tersebut. Itukan sebuah rezeki yang besar. Karena pada hakikatnya uang atau benda yang kita keluarkan itu tidaklah hilang apalagi membuat kita rugi. Melainkan justru tersimpan dilangit.

Bahkan sebagian “nilai-nya” Allah kasihkan didunia tanpa mengurangi jumlah total yang tersimpan sesungguhnya. Allahuakbar. Segitu baiknya Allah keoada kita. Maka kalo sampai bisa sedekah, dikasih kekuatan untuk rela bersedekah itu merupakan rezeki yang lebih besar dari uang berapapun. Karena uang itu hanya berlaku di dunia, nggak pernah bisa sampai ke akhirat. Jadi buat apa menumpuk harta, kenapa tidak menumpuknya untuk perbekalan agar jadi kaya di kehidupan nanti?

Ada banyak lagi Rezeki yang nilainya lebih besar daripada Uang

Hmm. Sebenarnya masih ada lagi selain dari daftar diatas. Seperti ketenangan, menemukan passion, dikabulkan doa, menjadi diri sendiri, dipercaya orang lain, orang baik sama kita tidak menjahati, dikasih senyum sama orang, khusyu berdoa kepada Allah dll. Saya mungkin nggak bisa berhenti menyebutkan karena saking asyiknya serta memang nikmat Allah itu nggak bisa dihitung. (Wa in ta’uddu ni’matallaahi… La tuhsuuha).

Sangat prihatin jika ada orang yang mendewa-kan uang. Harta. Kedudukan. Pangkat. Merasa “sok” dengan gelarnya. Merasa “paling” dengan ilmunya. Nggak “sudi” menolong dengan sesama manusia yang lainnya. Oleh karena hanya memahami bahwa rezeki iru pusarannya di sekeliling itu semua.

Nggak bisa melihat dari aspek lain. Kita yang bisa memahami hakikat rezeki selain uang atau harta harus sangat bersyukur. Karena pemahaman ini juga bagian dari sebuah rezeki. Wallahua’lam. Just note for myself. Thanks was reading.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.