7 Insight yang jadi pelajaran di tahun 2020 untuk menyambut Resolusi tahun 2021 yang lebih Menantang

Diposting pada

Masyaallah tahun 2021 didepan mata. Pergantian tahun itu ibarat pergeseran ruang dan tempat. Dimana ada prinsip yang akan kita bawa lagi dan sebagian ditinggalkan.

Prinsip-prinsip yang pas dan membawa sukses pada 2020 kita pertahankan. Serta beberapa yang nggak cocok ya harus kita tinggalkan. Itulah re-solusi. Momen yang tepat untuk dimanfaatkan karena kita sudah berada di tempat yang berbeda.

Membuat Resolusi Bukan Keharusan, tapi momen yang bagus untuk evaluasi

Yah, membuat resolusi bukan keharusan sih aslinya tapi lebih tepatnya evaluasi, ukur dan retargeting. Supaya lebih hot lagi dan lebih siap menjalani sepanjang 2021.

Kalo kita siap, kita akan lebih mudah untuk menjadi pemenang. Kita akan lebih tangguh (endurance) dan juga tenang. Tahun 2020 kemarin, saya banyak sekali menemukan sesuatu yang menarik, mengecewakan, mengejutkan dan cukup penting.

Barangkali, insigh ini relevan dengan Anda. Maka, jangan lewatkan momen ini untuk membuat resolusi tahun 2021 lebih siap. “2021 Get The Moment”

7 Insight yang jadi pelajaran Saya di tahun 2020

1. Saya tenggelam dalam informasi positif, baik, namun tidak benar-benar relevan dan berguna buat saya saat ini.

Saya akui, semua informasi itu bahkan penting. Diantaranya saya dapatkan via instagram explore, instagram feed, instagram story, beranda youtube, facebook.

Hampir semua informasi yang tak saya butuhkan saya jumpai di medsos. Media sosial. Ini sekaligus menyadarkan saya bahwa ada dua kesenjangan antara GOOGLE vs MEDSOS.

Dimana, google adalah basis dari need, alias kebutuhan. Apa-apa yang saya butuhkan infonya, saya andalkan mbah google. Sangat jarang melakukan pencarian dari instagram, atau youtube kecuali untuk misalnya channel-channel yang memang sudah saya simpan karena relevan.

Sementara saat saya lihat history pencarian di goole, rata-rata kata-kata yang terecord oleh laporan google itu semua merupakan apa yang saya ingin ketahui. Atau bahasa mudahnya, kebutuhan.

Dari sini saya di tahun 2021 insyaallah akan berusaha lebih meringankan saya sendiri dengan tidak terlalu berlebihan, estimasi pengurangan konsumsi konten yang nggak relevan bagi saya saat ini berharap bisa losses 60-70%.

Selain itu selama 2020, banyak orang sukses dan kaya yang ujug-ujug nongol di depan mata. Membagikan pengalaman bisnisnya melalui youtube & instagram. Menurut saya, itu baik tapi tidak semua cocok buat kita.

Salah-salah mengambil hikmah, malah bikin kepercayaan diri jadi bubrah. Ambruk, jadi gak pede atau bingung mau menerapkan ilmu yang mana. Mereka bercerita di sosial media dengan kesempurnaan membawakan story-nya.

Awas, jangan salah mengambil role model untuk bisnis kita. Pilih dan konsisten, satu-dua-tiga dulu sampai benar-benar kita praktikkan ilmu-ilmunya, dan worked it. Insyaallah, lebih ringan.

Kuncinya adalah pembatasan informasi secara bijak pada diri kita sendiri. Itu aja sih.

2. Saya dihentikan oleh ratusan status whatsapp di kontak saya.

Akibatnya waktu tersita. Kesempatan tercuri. Untung, sebelum memasuki tahun 2021. Tepatnya, pertengahan november saya dengan sadis membisukan status-status kontak yang nongol di whatsapp satu-satu.

Pertimbangan saya sederhana saja, itu semua tidak memberi saya dampak positif. Sebaliknya bisa terbilang banyak mudhorot di saya.

Yang temen-temen perlu dipahami, satu. Jangan salah sangka dengan saya. Ah, tidak friendly nih orang. Bukan gitu.

Saya meyakini sendiri, ukuran pertemanan bukan ditentukan dari seberapa banyak kita nongol di status teman. Salah besar, kalo masih ada yang beranggapan seperti itu.

Ada banyak indikasi, untuk membuat diri kita benar-benar memiliki hubungan baik dengan orang lain, temah, sahabat dan keluarga tanpa merugikan waktu diri sendiri.

Bisa dibilang ya, pas awal melakukan pembisuan massal itu. Jari-jari tangan saya ini masih shock. Soalnya, begitu buka whatsapp, rasanya jempol ini pengen geser-geser layar ke kiri-kanan. Itu udah secara auto. Bawah sadar bangeet.

Tapi untungnya gak banyak yang bisa dilakukan, karena hanya beberapa orang saja yang masih saya sisakan notifikasinya saya aktifkan. Tentu, yang relevan bagi saya saat ini. Sekali-lagi, saat ini.

3. Inactif di Facebook, memberi peluang buat saya untuk lebih banyak menulis di blog.

Di tahun 2019, saya sudah menghapus secara permanen satu akun facebook saya. Dimana jumlah pertemanan itu sudah 5,000 teman. Akun facebook yang saya bangun sejak sekitar tahun 2009.

Saya menghapus akun lama saya, karena saya sudah tidak banyak berinteraksi di akun facebook lama, dan telah memiliki akun facebook yang baru. Tapi, lagi-lagi mungkin memang saya kurang cocok menggunakan media facebook sebagai platform sosial.

Setiap kali saya masuk ke facebook, aktifitas yang paling mendominasi jari saya adalah memencet tombol notifikasi. Pikir saya, kenapa saya menunggu-nunggu like dan komentar orang lain atas status yang barusaja saya bikin ya.

Terus, kenapa saya bikin status tersebut. Endgame, nya itu apa. Kalo misalnya kurang bermanfaat, terus ngapain dibuat. Kalo memang bermanfaat, misalnya nasihat, yasudah tidak usah ditunggu-tunggu responnya. Entah itu like, kommen atau share.

Kecuali satu yang masih saya pertahankan adalah untuk kepentingan bisnis, relasi dan dakwah. Sebenarnya tiga tujuan ini yang ingin saya kelola.

Hanya saja, mungkin karena tipikal saya yang belum beres dalam menggunakan facebook. Ya, itu. Notifikasi komen, like membuat saya terganggu. Akhirnya saya memutuskan uninstall facebook di hp android saya, serta log-out facebook dari web browser laptop saya.

Setelah mencoba selama 30 hari, bisa dibilang saya belum berhasil meninggalkan facebook, karena saya masih mencuri-curi informasi yang saya rindukan di facebook melalui browser android.

Tapi, akhirnya saya tidak simpan sandi dan username. Yang mana, itu menyulitkan saya untuk masuk dan mengakses. Membuat saya memutuskan untuk tidak jadi login facebook, dan lebih memilih ke telegram membuat beberapa notes singkat untuk bahan konten saya.

4. Pandemi mengubah segalanya, termasuk ibadah saya.

Yap. Sebagai muslim, saya mungkin masih jauh dari muslim yang baik. Sebelum pandemi, apalagi setelah pandemi yang banyak sekali pembatasan sosial.

Yang paling terasa before-afternya adalah, intensitas pergi ke masjid atau mushola blank. Astagfirullah.

Akibatnya ke yang lain, seperti sunnah-sunnah ikutan kebawa. Sementara keseimbangan hidup itu, menurut saya adalah akhirat & dunia berjalan berimbang.

Tidak dunia saja, tidak ahirat saja. Tapi, sejak pandemi ini bener-bener seperti pukulan telak bagi saya atas kebutuhan akhirat. Catatan yang ingin saya sampaikan disini adalah, gimana sekarang untuk ngebangun lagi supaya imbang lagi.

Tidak timpang. Tidak 90% duniawi. Tapi, Anda juga tenang batinnya, lancar urusan dunianya, pekerjaan, keluarga. Sehat, rezeki lancar dengan imbang antara dunia-akhirat. Dah, itu aja.

5. Terbantu dengan teknologi.

Mungkin saya masih ketinggalan untuk pemakaian teknologi, tapi dengan perbedaan atas teknologi yang saya pakai sebelumnya dengan saat ini sudah bisa merasakan perbedaannya.

Dari HP, misalnya yang berkapasitas baterai 5,000 mAh dengan 2,300 mAh beda jauh. Intensitas charging saya berkurang. Saya bisa lebih banyak fokus ke yang lain.

Kalo dari isi aplikasi hampir-hampir masih sama, atau justru malah lebih sedikit. Karena akhir 2020 saya mengeliminasi banyak aplikasi yang tidak banyak berguna bagi saya.

Berikutnya dari sisi laptop, sebenarnya masih laptop yang sama. Berbeda di hardisk, awalnya hdd ke ssd. Mouse, awalnya kabel ke wireless. Perbedaan performa saya rasakan hampir 60% mungkin peningkatannya.

Bayangkan saja, mencolok kabel mouse ke usb laptop setiap hari, itu menyita waktu lumayan.

Sementara dengan mengupgrade teknologi yang lebih tinggi, dengan mengorbankan sedikit dana kita sebagai investasi itu hasilnya cukup terasa dalam jangka panjang yang benar-benar diuntungkan.

Hemat dari sisi waktu, tenaga, kepraktisan.

Terus bicara SSD, ini ada pelajaran menarik. SSD itu kapasitas memorinya sedikit, tapi kecepatannya wuush. Saya kebetulan gak butuh banyak-banyak memori kok, untuk laptop saya.

Karena pekerjaan harian saya berhubungan lebih banyak dengan tulisan, gambar, desain, internet, aplikasi berbasis web yant tak butuh installing ke sistem komputer.

Pelajaran menariknya apa, nyambung poin ke-6. Silakan nanti baca lagi. Yaitu, untuk SSD di laptop membuat saya hanya menyimpan file-file penting, perlu, berguna.

Tidak sembarangan asal download file dari internet, yang menjadikan folder download sebaga (trash) tempat sampah. Kedua, fikiran kita ringan karena tidak fokus ke banyak file di komputer kita.

Ketiga-sistem komputer lebih ngebut, tidak numpuk cache di folder temp, %temp% dll.

Nah, di 2021 ini saya memprediksi penggunaan tablet akan lebih banyak. Sebab, tablet adalah jembatan antara Smartphone yang penuh keterbatasan dengan Laptop yang menguras waktu dalam penggunaan.

Tablet, saya lihat simple. Mudah digunakan untuk menjembatani kebutuhan di segala kondisi, waktu, dan tempat.

Patut jadi teknologi yang dicoba, untuk memangkas kesibukan jadi berkurang dan membuat kita lebih produktif.

6. Lebih ringan dengan hidup minimalis.

Sejak mengetahui konsep hidup minimalis, saya belum bisa langsung menerapkan. Karena harus menyatukan visi saya dan istri. Duh, banyak kontranya deh pokoknya di awal.

Nah, lalu saya membaca bukunya francine jay, seni hidup minimalis dan seni membuat hidup lebih ringan. Membuka wawasan saya untuk langsung actions sedikit-sedikit menerapkan. Untungnya, istri juga terbuka dengan konsep hidup minimalis dari mentornya di Berl Kosmetik.

Mas Afik Canggih. Ya, syukur-syukur lah. Jadi bisa bareng-bareng mengeksekusi rumah total-totalan dengan membuang barang-barang tak terpakai. Hasilnya, ploooong. Hampir 40% isi rumah bersih.

Buku-buku lama dibakar. Baju-baju usang, dibuang. Mainan-mainan rusak, disingkirkan. Perabot gelas, piring makai seperlunya. Kurang dari 10 item.

Meski, masih belum full banget tapi ringannya fikiran, terasa banget. Marah-marah dirumah jadi lebih jarang, karena biasanya kesel itu dipicu dari kondisi rumah yang super berantakan.

Misal, saya pas pulang dari kerja, masuk dengan ruangan berserakan mainan. Ada sedikit beda pendapat sama istri, jadi deh marah dan hati berkecamuk. Kacau. Nggak enak.

Dengan investasi hidup minimalis, itu bisa diminimalisir. Coba deh, kalo penasaran. Bisa mulai dari diri kamu sendiri, kalo si istri belum terbuka fikirannya.

Atau memberi pemahaman dulu, rencana untuk hidup minimalis. Karena menurut saya, tinggal serumah dengan istri kalo beda visi itu nggak akan bakal bisa jalan. Tes aja kalo gak percaya.

7. Masalah berkurang, kesiapan bertambah dengan datang lebih pagi di kantor

Nah, siapa saja saya yakin bekerja. Baik skala bisnis atau masih ngantor seperti saya. Bersiap lebih pagi, adalah keharusan. Karena, ternyata banyak untungnya bagi kita.

Dengan datang lebih pagi, dipastikan kita lebih siap. Untuk membereskan masalah itu kita lebih tajam seperti gergaji yang habis diasah. Sementara yang datangnya terlambat, ya sebaliknya seperti gergaji yang tak pernah dirawat bahkan berkarat.

Ini cukup penting, tapi seringnya terabaikan. Seharusnya kita bisa mulai hari dengan lebih pagi. Bangun lebih awal, mulai jam 03.00 Wib. Itulah Fighter.

Last Updated on 12 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.