Anxiety Disorder. Penyakit cemas dan cara mengatasinya

Diposting pada

Anxiety itu artinya cemas. Cemas terhadap sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Gejala kecemasannya disebut psikosomatis (phsycosomatic).

Contoh Anxiety Disorder

Contohnya adalah. Kalau kita terpengaruh oleh sesuatu yang berkaitan (misal isu virus covid) itu menimbulkan kecemasan. Bikin deg-degan. Jantung berdebar. Badan jadi panas, anget. Tenggorokan nggak enak. Itu tandanya kamu sedang terkena anxiety disorder. Kecemasan berlebihan.

Kalo dicek, aslinya nggak ada apa-apa. Awas! Anxiety disorder, bisa jadi penyakit.

Penyebab Anxiety Disorder

Bahkan karena cuma baca-baca berita tentang kesehatan misalnya. Baca tanda-tanda gejala terkena covid, terus kamu jadi ngerasa seperti ngalamin tanda-tandanya. Nah, itu kamu terperangkan dalam anxiety disorder.

Begitu juga dengan berita kriminal, pencurian, kecelakaan, film horor. Jadi takut dirumah sendiri-an. Itu efeknya. Jadi memang nggak seharusnya ditonton. Atau lebih baik nggak usah tau, kalo kamu orangnya mudah cemas.

Cara mengatasi Anxiety

Daripada baca berita yang negatif. Daripada nonton film yang horor. Mending waktunya dialokasikan untuk membaca sesuatu yang positif seperti harapan, optimisme, cita-cita, agama.

Saat ada yang sakit, beri harapan yang baik-baik!

Kalo ada yang lagi sakit, jangan ditakut-takuti biar dia tidak cemas. Ini nggak jelas sifatnya, jangan-jangan ini. Jangan-jangan, itu.

Beda Anxiety (Cemas) dengan Fear (Takut)

Kalo Fear itu takut. Takut itu terhadap sesuatu yang nyata di depan kita. Spesifik. Takut jarum suntik saat mau diinduksi, takut dehidrasi. Ini fear. Orang sakit ada fear, ada anxiety.

Kalau cemas ini tidak spesifik. Tidak jelas. Sifatnya tidak nyata. Tapi anxiety ini juga bisa bahaya. Jadi sebisa mungkin hindari pemicu anxiety dengan cara memperbanyak bahan bacaan, keterlibatan dengan sesuatu yang positif-positif. Ini butuh latihan, dan harus dibiasakan.

Introvert rentan dengan anxiety

Kepribadian introvert kenapa lebih rentan terkena anxiety disorder ketimbang ekstrover. Sebab introvert itu perhatiannya tertuju ke dalam. Emosionalnya, kekhawatirannya, itu ditaruh didalam dirinya sendiri. Beda kalau extrovert, dia akan diceritakan kepada orang lain atau bergerak. Sehingga lebih tangguh jiwanya. Strenght. Sementara introvert butuh upaya yang lebih ekstra untuk bisa menghadapi anxiety ini.

Sumber: Ustadz fahruddin faiz & informasi pribadi

Last Updated on 25 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.