Design Graphic is not my Passions

Diposting pada

Ketika kita mau angkat passions sebagai profesi. Maka, mau nggak mau kita harus ambil satu dan fokus atau meninggalkannya untuk passions yang lain. Titik. Nggak bisa deh, itu namanya diduakan. Misal mau jadi ahli sebagai desainer grafis dan juga ahli sebagai blogger atau writter. Berat! Selain itu rasanya adil juga sih, satu orang satu profesi ahli biar nggak terbilang tamak. Tapi maksud saya, tentu bagi siapa saja yang benar-benar mengusahakannya ditambah Allah mengizinkannya. Itu masih sangat posibble untuk memiliki dua profesi ahli atau lebih.

Kenapa Design Graphic bukan passions saya!

I love design. Yes, totally i like with design. Design Grafis mengajarkan saya untuk mendesain hidup yang indah ini. Merancang desain rumah yang saya akan bangun. Mengatur isi rumah dengan tata letak desain yang pas. Semua itu bisa dengan mudah dilakukan berkat memahami desain.

Tapi design grafis bukan passion saya ternyata.

Design grafis memakan banyak waktu, itu tidak salah. Tapi saya tidak bisa mengikuti aturan tersebut. Design grafis memerlukan berkali-kali revisi yang diminta oleh kliennya, sementara saya nggak cukup sabar menghadapi itu. Ketika ada seorang yang meminta untuk dibuatkan desainnya, seharusnya itu tidaklah gratis. Ada value (inspired from Michael Janda) yang harus diberikan oleh dia atas value yang telah saya lakukan buat mendesain, yang itu berupa waktu, ide, gagasan, laptop, listrik, kuota, insiprasi, ilmu, buku-buku yang saya investasikan, trial-and-eror yang telah membuat sebagian desain dulu mendapat kritikan dan saran.

Cara Untuk Menemukan Passions

Saya belum bisa membuat orang tersebut bisa memberikan value dan menghargai saya, juga lebih disebabkan karena saat ini saya menemukan passion yang sepertinya sudah sangat tepat sama saya. Dan mengharuskan saya memilih satu passion yang harus difokuskan, dan meniggalkan passion yang lainnya. Maka itulah alasan saya mengatakan bahwa desain grafis bukan passion saya!

Untuk bisa menemukan passions tersebut, tidak semerta-merta langsung ketemu. Saya harus melalui berbagai proses panjang yang mengantarkan. Saya harus menjadi seorang karyawan dahulu. Harus menjadi seorang marketing di suatu perumahan. Harus kecewa besar karena saya terlambat dalam memulai belajar blog. Dll. Intinya dalam menemukan passion yang tepat, butuh proses perjalanan yang harus dilalui. Panjang atau pendek, nikmati saja!

Last Updated on 8 April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.