Memberi hutang adalah sebuah hutang

Diposting pada

Memberi hutang adalah sebuah hutang. Bener, saya nggak bohong. Saya merasakan sebagai orang yang sangat menderita karena saya memberi hutang (memiliki piutang). Lho, kok bisa?

Bukannya yang seharusnya susah itu si penghutang. Karena dia harus bayar hutangnya. Uang yang dia punya, misal seharusnya buat beli beras teralihkan buat bayar hutang. Akibatnya, beras nggak bisa terbeli. Atau terbeli tapi dikit. Itu kan gambaran kalo hutang menyusahkan.

Tapi ini kok aneh. Yang susah, yang sengsara mosok yang ngasih hutang. Sampe judulnya dibilang “memberi hutang adalah hutang.” Ya, saya bilang dan gak bohong karena kalo kamu memberi hutang, kamu punya tanggungan untuk nagih. Tanggungan artinya hutang. Sedangkan kenapa nagih kok rasanya berat, sebab nagih = meminta dari orang lain. Sementara pengennya kita kan nggak minta-minta. Kita pengen, orang lain sadar dengan sendirinya untuk sukarela membayar hutangnya ke kita. Bukan gengsi, tapi menghindar dari meminta (menagih).

Selama tanggungan belum tertunaikan, hutangmu untuk menagih akan terus membayang-bayangi. Jadi hidup kamu akan tenang setelah hutang tertagih. Bukan terbayar oleh si penghutang.

Jangan ngasih hutang

Bismillah. Karena kelemahan saya dalam menagih piutang. Sangat berat kalau harus meminta. Maka saya bertekad untuk nggak mau punya urusan lagi sama hutang atau memberi hutang apapun jenisnya. Saya tekad gak akan lagi ngutang seumur hidup, semoga ini jadi doa saya. Semoga nyampe ke Allah dan ini insyaallah tulus saya minta ke Engkau ya Rabb. Sisa-sisa hutang yang ada, semoga segera diberi rezeki untuk melunasinya. Kedepan semoga bisa hidup normal bahkan lancar banget tanpa hutang.

Terus, yang kedua yang harus saya lakukan adalah jangan ngasih hutang. Karena ngasih hutang artinya membebani saya buat nagih. Ngasih hutang ke orang lain, artinya saya berhutang buat nagih. Masalahnya orang yang ngutang lupa sama hutangnya. Atau inget tapi tidak serius untuk segera bebas dari hutangnya. Padahal, serius bebas hutang itu gampang. Tinggal lakukan dengan cara mencicil, itu pasti nggak akan berat. Si pemberi hutang, pastilah mau mengerti jika pembayarannya dilakukan cara cicil. Bahkan mungkin aka menghargai kesungguh-sungguhannya dalam membayar hutang. Kuncinya berani nego cara bayar hutang, jangan kabur atau lost kontak, jalin silaturachmi.

Jarang nyapa, tiba-tiba ngutang

Pernah ada temen yang seperti itu? Pasti kemungkinan ada. Yah, memang. Mau gimana lagi. Kali udah butuh banget. Orang yang polos, punya uang, mungkin mau minjemin dia uang harapannya.

Secara attitude, itu nggak baik. Kurang etika. Yang dipinjemin bisa batin : “selama ini emang kamu kemana aja, giliran deket pas lagi butuh aja.” Jangan sampai seperti itu.

Simpan uang dalam bentuk LM

Memang, memang gak selalu jadi sebuah kekurangan. Bagi yang enggan nagih utang, enggan ini alasannya beda-beda. Saya gak bisa jelasin disini, deh. Maka bisa jadi kelebihan. Berfikirnya tapi mesri dengan terbalik. Artinya gini, kalo daeipada punya banyak uang kena inflasi. Susut nilainya. Terus kalo uang cash disimpen dirumahmu. Lalu ada temen minjem, kamu gak bisa bohong. Meski alasan, bohong buat kebaikan. Karena hukum berhutang sendiri mubah. Kalo gitu kan jadi susah buat nolak, ya kan. Akhirnya kamu mau gak mau harus jawab dengan tidak bohong.

Tapi kalo nyimpennya ke bentuk lm, terus dijawab gak punya uang. Lha, kan memang bener gak ada uangnya. Adanya LM. Jadi coba untuk lebih kenal dekat sama LM.

Last Updated on 26 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.