Tips Nulis Buku dari mba Farah Qoonita (@qooonit)

Diposting pada

Tips nulis dari mbak farah qoonita nih, semoga bisa menginspirasi saya, juga temen-temen. Tips ini saya dapat dari instagram @qooonit kalo temen-temen mau baca lengkapnya, silakan langsung “cus” ke ig beliau. Saya cuma tuliskan ringkasannya aja. Biar mudah saya memahami kalo mau dibaca nanti-nanti.

Mba Farah Qoonita ini penulis buku “Seni Tinggal di Bumi” alhamdulillah saya udah baca bukunya. Menarik, unik, gaya bahasanya tertata apik. Salut banget sama cara pemilihan dan penggunaan kata-kata. Kalau penasaran, tinggal langsung baca aja bukunya. Oke, berikut ini tipsnya.

Blog Farah Qoonita

Catatan-catatan beliau, bisa dibaca di blog pribadinya. Alamatnya: https://farahqoon.blogspot.com/

Berikut ini tips-nulis dari mba farah qoonita.

1. Siapkan kepercayaan diri

Awalnya mba qoon ragu untuk menulis. Ia berfikir kalo menulis buku hanya untuk kalangan orang hebat diatas sana. Menerbitkan buku seperti sesuatu yang tak pernah terjangkau. Nanti siapa yang mau membaca. Akankah ada yang beli. Apa bisa bukunya terbit.

“Aku nggak bisa nulis. Ilmu-ku tak layak untuk diabadikan jadi sebuah buku.” – Katanya.

Hingga sahabat beliau bilang “Qoon, kok lo gak nerbitin buku?” lalu dari pertanyaan itu membuat cara berfikir mba farah berubah. Rasa percaya diri-nya mulai ada. Terus, dia percaya diri “Aku juga bisa menerbitkan buku.” Sebab kata dia, menulis adalah proses mendokumentasikan ilmu.

Setiap kita beda. Setiap orang punya keunikan serta keahlian. Hal yang bagi kita biasa aja, bisa jadi bagi orang lain adalah berlian. Jadi apa yang kita tahu, harus dituliskan. Supaya jadi bermanfaat. Yakinlah semua bisa jadi penulis. Dunia butuh banyak penulis-penulis baik!

2. Tentukan Misi Besar

Aspek “Why” selalu jadi hal yang penting. Disini kita harus tulis sebanyak mungkin alasan kenapa buku kita harus hadir. Kuncinya adalah, semakin besar dan penting misi kita, maka semakin besar gelombang kebaikan yang akan kita ciptakan.

Cara memulainya adalah dengan melihat masalah yang ada disekitar kita. Itu bisa jadi bahan tulisan. Sebab kita turut andil memberi solusi. Alasan lain bisa berupa kebaikan dunia dan akhirat, mulai dari kontribusi dalam kebaikan, menyelesaikan masalah di masyarakat, dakwah dengan karya, bikin bangga orang tua, populer, amal jariyah, berdonasi dnegan nominal besar, jadi penguat finansial agar leluasa berdakwah.

seni tinggal di bumi

Wow. Misi mba farah qoonita, emang benar-benar besar ya. Salut!

3. Buat Kerangka Besar Buku

Waktunya menentukan tema buku. Bisa disesuaikan dengan ketertarikan, keahlian, greget-nya kita sama masalah tertentu (persis kaya kata uda a fuadi). Misal ada yang keliru dalam masyarakat, pengen banget kita lurusin. Nah buku bisa jadi satu jalan untuk memperbaikinya.

Bagi mba qoonita, poin utama menulis adalah menyampaikan. Bukan untuk disukai manusia. Ambil topik yang memang dibutuhkan, bukan topik yang sekiranya laku di pasaran. Urusan disukai dan diterima pasar, itu nanti dan beda lagi. Bisa dirancang strateginya katanya.

Setelah menentukan tema. Buat kerangka. Bab demi bab, apa aja yang harus ditulis untuk mewujudkan misi besarmu.

4. Buat Timeline. Disiplin.

Kalo udah ketahuan apa aja yang mesti dilakukan, buat timeline-nya. Tentukan target demi target yang harus dicapai beseta tanggalnya. Kapan selesai riset, menulis naskan, pengendapan, editing, menerbitkan, hingga launching. Tempel di dinding kamar minta sama Allah agar diizinkan jadi pengaung pesan-pesan-Nya. Pantaskan diri, seimbangkan apa yang kita tulis dengan yang kita lakukan.

Berusaha jujur dalam amal-amal. Kata seorang bijak Yazid Al-Harits: “Apabila batin seorang hamba sama dengan yang tampak, maka itu adalah kondisi seimbang. Jika batinnya lebih utama dari yang tampak, maka itu adalah keutamaan. Jika yang tampak lebih utama dari batinnya maka itu sebuah kedzaliman.

Berusahalah menjadi seperti apa yang kita tuliskan, walaupun sulit.

5. Riset, Riset, Riset

Semakin kakya dan dalam kita melakukan riset, semakin baik. Sesuaikan riset dengan kebutuhan. Riset bisa diambil dari daftar buku, artikel, dokumenter, jurnal, narasumber, wawancara dan pengamatan kita sendiri.

6. The First Draft of Anything is Garbage!

Saat ulai nulis, ini tahapan paling berat katanya. Sebab bisa jadi tiba-tiba rasa percaya diri ngilang dan merosot tajam. Coba lakukan tips ini:

  1. Sediakan waktu (misal 2 jam sehari) untuk nulis. Gak boleh diganggu gugat. Fokuslah!
  2. Menulis tanpa berfikir. Tumpahkan aja seluruh ide dikepala kita tanpa memikirkan benar salah, typo, kesesuaian urutan argumentasi, seru apa engganya, dsb.

7. Endapan lalu edit naskah lagi

Kalau naskah udah beres, saatnya pengendapan. Waktunya bisa 1 minggu hingga 2 bulan. Sesuaikan aja. Fungsi pengendapan untuk mengubah perspektif penulis jadi pebaca. Agar perbaikan jaskah jadi lebih objektif.

8. Minta Saran

Kasih naskah buku-mu ke guru, kawan atau sahabat. Pilih yang paling kreatif, logis, bijak dan berpengalaman. Minta saran kritik mereka. Turunkan ego. Berusahalah objektif, ambil kritikan mereka yang membangun. Hal yang kita yakini benar, belum tentu baik. Begitupun sebaliknya. Perbaki lagi jika dibutuhkan.

9. Terbitkan

Cara menerbitkan buku tinggal sesuaan dengan eebutuhan dan tujuan. Bsa elalui penerbit minor, mayor ataupun selfpublishing. Masing-masing punya kelemahan, kelebihan.

Nah, itulah 9 tips-nya. Jadi pengen baca bukunya lagi deh yang berjudul seni tinggal di bumi. Eh, keinget. Kalau bukunya lagi dipinjem. Haha. Ya nggak papa semoga menginspirasi buat yang baca-nya. Saya tak bikin resume tips menulisnya saja. Makasih banyak sekali lagi buat mba qoonita, telah membagikan tipsnya. Semoga bermanfaat. Jadi amal jariyyah.

Last Updated on 6 April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.